Selamat Menikmati Belanja Secara Mudah, 0821-1589-0023

Enable Follow close

Indonesia  English


Web Statistik

Visitors     64357 Pengunjung

Page Views     Page View

Visitor Online     2  Pengunjung Online

Pembayaran

Pasar Herbals

Artikel

Awas Obesitas!

Ungkapan yang sering muncul kala seseorang bertemu dengan teman lamanya adalah: “Wah, saya pangling melihat kamu. Sekarang gemuk sekali. Sudah sukses nih ya!”

Kecenderungan orang memiliki berat badan bertambah memang fakta yang semakin mudah dijumpai. Tak hanya monopoli orang yang kerja kantoran, orang dari berbagai lapisan sosial kini semakin banyak yang bertubuh gemuk. Bahkan anak-anak pun tak ketinggalan.

Apakah ini merupakan pertanda dari sebuah kemajuan, yaitu dengan makin banyak orang yang makmur dengan tercukupi kebutuhan makannya? Dalam pandangan sekilas bisa jadi ya. Masyarakat akan mengangggap orang yang gemuk sebagai orang yang makmur dan sukses, terlihat dari tubuhnya yang subur karena makannya enak dan pasti banyak. Masyarakat pun akan beranggapan, orang demikian pasti mau makan apa saja bisa. Maka inilah tanda orang yang sukses.

Namun, fakta yang ada tidaklah demikian. Bermunculannya orang-orang gemuk di masyarakat yang tidak memandang status sosial dan usia, justru merupakan ancaman baru, khususnya dalam bidang kesehatan. Kegemukan merupakan bom waktu bagi berbagai penyakit yang sewaktu-waktu bisa meledak. Bahkan sebelum ledakan itu terjadi, kegemukan telah menjadi “teror” dengan berbagai keluhan dan derita yang membebani hidup penyandangnya.

Overweight atau kegemukan biasanya terjadi ketika jumlah cadangan lemak dalam tubuh berlebih. Inilah yang menyebabkan berat badan seseorang melebihi normal. Walau masih dalam taraf wajar, kegemukan bisa memengaruhi bentuk tubuh dan penampilan. Jika dibiarkan, ini bisa memicu obesitas. Ibarat lampu lalu lintas, kegemukan itu lampu kuning, memperingatkan Anda untuk hati-hati.

Sementara obesitas adalah keadaan ketika jumlah cadangan lemak sudah overload dan memiliki potensi mengganggu kesehatan tubuh dan menimbulkan banyak penyakit berbahaya. Lampu merah sudah menyala jika Anda termasuk dalam kategori ini. Segera hentikan lajunya. Setiap tahun, angka penderita obesitas semakin meningkat. Kurang gerak dan makan berlebih dinilai sebagai penyebab utama.

Selain membuat tubuh jadi tidak lincah, obesitas potensial mengundang datangnya diabetes dan tekanan darah tinggi.

Kelebihan lemak juga dihubungkan dengan meningkatnya kolesterol LDL atau kolesterol jahat dan trigliserida. Dengan berjalannya waktu, perubahan lemak darah ini ikut berperan dalam pembentukan timbunan lemak (plak) pada arteri. Kondisi ini disebut aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah) yang bisa membuat Anda berisiko terkena penyakit jantung koroner dan stroke.

Problem kesehatan yang tidak fatal tetapi sangat menggangggu diantaranya adalah gangguan pernafasan, gangguan kronis sendi dan otot, gangguan kulit dan infertilitas. Tidur ngorok juga dikaitkan dengan obesitas, yang sering menjadi faktor pemicu serangan jantung dan stroke.

Ada beberapa faktor penyebab obesitas, diantaranya genetik, lingkungan, psikologis, dan lain-lain. Dari sisi genetik, obesitas memang cenderung bersifat menurun. Namun ini bisa dicegah atau setidaknya diminimalkan bila orang tua mampu mengarahkan anaknya untuk memiliki pola makan yang sehat.

Kecenderungan potensi obesitas menjadi besar karena kebanyakan orang tua justru menjadi “teladan” dalam hal makan yang buruk, baik dari sisi kualitas (hanya mengedepankan rasa) maupun kuantitas (selalu banyak).
Faktor lingkungan terkait dengan kebiasaan makan dan aktivitas sehari-hari. Suka mengonsumsi fast food dan minuman manis menjadi pendorong munculnya obesitas. Terlebih bila ditambah dengan banyak ngemil dan sedikit beraktivitas, semakin cepat tubuh menjadi melar.

Terus Meningkat
Secara keseluruhan jumlah penduduk dengan kategori berat badan berlebih atau obesitas di seluruh dunia meningkat luar biasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas. Pada 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka itu.

Jika melihat data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Angka tersebut melebihi besaran angka kekurangan gizi dan gizi buruk pada anak-anak usia di bawah lima tahun sebesar 18,4 persen.

Sering orang mengesampingkan obesitas. Padahal obesitas itu berbahaya. Kita bisa mencegahnya karena obesitas adalah pilihan yang berhubungan dengan perilaku, pola makan, aktifitas fisik dan sebagainya. (ph)

Referensi:
• Resep Hidup Sehat Prof. Dr. Zullies Ekawati, Apt – Kanisius 2010
• Obesitas itu Berbahaya, Tapi Juga Pilihan Dr. Irsyalrusad, SpPD – kompasiana.com/irsyalrusad dan referensi lain.

Minyak Ketumbar Ampuh Bunuh Bakteri Pemicu Sakit Perut

Bagi yang punya hobi memasak, ketumbar tentu sudah tidak asing lagi. Rempah-rempah yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan ini ternyata bisa jadi obat, karena mengandung antibiotik untuk membunuh bakteri berbahaya penyebab sakit perut.

Ketumbar yang dalam Bahasa Latin dinamakan Coriandrum sativum merupakan sejenis rempah-rempah yang sepintas mirip merica, namun ukurannya lebih kecil dan rasanya tidak pedas. Rasanya khas namun tidak terlalu menyengat sehingga sangat disukai.

Selain populer sebagai bumbu masak, ketumbar juga sering dipakai sebagai obat, misalnya untuk mengatasi gangguan pencernaan. Biasanya untuk mengatasi diare, ketumbar direbus kemudian air rebusannya diminum secara teratur setiap hari sampai gejalanya mereda.

Khasiat ketumbar untuk mengatasi diare khususnya yang dipicu oleh infeksi bakteri telah dibuktikan baru-baru ini dalam sebuah penelitian di University of Beira Interior, portugal. Laporan penelitiannya dapat ditemukan dalam Journal of Medical Microbiology.

Dalam penelitian tersebut, kandungan yang dipakai sebagai obat adalah minyak ketumbar. Dengan konsentrasi 1,6 persen, minyak tersebut dicampur dengan 12 jenis bakteri berbahaya termasuk Escherichia coli, Salmonella dan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Penelitian yang dipimpin oleh Dr Fernanda Domingues tersebut menunjukkan, pertumbuhan 12 jenis bakteri berbahaya tersebut bisa dihambat dengan minyak ketumbar. Bahkan MRSA yang selama ini dikenal sebagai superbug alias sudah kebal dengan berbagai antibiotik, juga bisa dibunuh dengan minyak ketumbar.

"Minyak ketumbar bisa jadi alternatif untuk dijadikan antibiotik alamiah. Kami membayangkan ketumbar bisa dibuat dalam bentuk lotion, obat kumur atau bahkan tablet dan dipakai sebagai antibiotik," ungkap Dr Domingues seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (25/8/2011).

Senyawa Dalam Kunyit Mampu Obati Kanker di Kepala dan Leher

Kurkumin, komponen utama dalam kunyit yang banyak digunakan dalam bumbu kari ternyata mampu menekan jalur sinyal sel yang mendorong pertumbuhan kanker di kepala dan kanker leher. Kurkumin dapat bekerja dalam mulut pasien penderita kanker ganas kepala dan leher, serta mengurangi pertumbuhan kanker.

Penelitian ini menggunakan air liur manusia dan hasil penelitiannya telah dimuat pada 15 September dalam jurnal Clinical Cancer Research yang diterbitkan oleh American Association of Cancer Research.

"Tak hanya mempengaruhi kanker dengan menghambat jalur sel sinyalnya, kurkumin juga mempengaruhi air liur dengan mengurangi enzim sitokin, penyebab radang yang ada dalam air liur," kata Dr. Marilene Wang peneliti di UCLA Jonsson Comprehensive Cancer Center seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (15/9/2011).

Kunyit adalah rempah-rempah yang banyak digunakan di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tengah untuk memasak dan telah lama dikenal memiliki sifat obat, yaitu memiliki sifat anti radang.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kurkumin dapat menekan pertumbuhan kanker tertentu. Selama bertahun-tahun, para perempuan di India telah menggunakan kunyit sebagai obat oles anti penuaan, mengobati kram selama menstruasi dan sebagai tapal pada kulit untuk mempercepat penyembuhan luka.

"Sebuah penelitian tahun 2005 yang dilakukan oleh Dr. Wang dan timnya menunjukkan bahwa kurkumin menekan pertumbuhan kanker kepala dan leher pada tikus. Dalam penelitian hewan, kurkumin diterapkan langsung pada tumor dalam bentuk pasta. Penelitian tahun 2010 yang juga dilakukan pada sel tikus menemukan bahwa kurkumin menekan pertumbuhan kanker leher dan kepala dengan cara mengatur siklus sel," kata Eri Srivatsan, profesor bedah dan peneliti Jonsson Cancer Center yang telah mempelajari kurkumin dan sifat anti-kankernya selama tujuh tahun bersama Dr. Wang.

Kurkumin mengikat dan mencegah enzim yang dikenal sebagai inhibitor kappa β kinase (IKK) yang mendorong pertumbuhan kanker. Dalam penelitian ini, 21 pasien kanker kepala dan leher memberikan sampel air liur mereka sebelum dan setelah mengunyah dua tablet kurkumin 1.000 miligram. Satu jam kemudian, sampel air liur diambil dan proteinnya diekstraksi untuk mengukur aktivitas kinase IKKβ.

Memakan kurkumin tidak hanya membuatnya melakukan kontak dengan kanker, tetapi juga dengan air liur, dan penelitian ini menunjukkan bahwa hal itu mengurangi tingkat sitokin dalam memperparah kanker.

"Sebuah laboratorium independen di Maryland mengkonfirmasi bahwa sitokin dalam air liur mendorong peradangan dan ikut membantu memberi makan kanker. Namun sitokin berkurang pada pasien yang mengunyah kurkumin dan menghambat jalur sinyal sel yang memicu pertumbuhan kanker," kata Wang.

Kurkumin memiliki efek penghambat yang signifikan, memblokir dua pemicu pertumbuhan kanker kepala dan kanker leher yang berbeda. Para peneliti yakin bahwa kurkumin dapat dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti kemoterapi dan radiasi untuk mengobati kanker kepala dan leher. Selain itu juga dapat diberikan kepada pasien yang berisiko tinggi mengalami kanker kepala dan leher, yaitu para perokok, mereka yang suka mengunyah tembakau, dan penderita infeksi virus HPV.

Agar efektif dalam memerangi kanker, kurkumin harus digunakan dalam bentuk suplemen. Meskipun kunyit digunakan dalam memasak, jumlah kurkumin yang diperlukan untuk menghasilkan efek klinis jauh lebih besar. "Mengharapkan efek positif melalui makan makanan yang dibumbui dengan kunyit tidaklah realistis," kata Wang.

Langkah berikutnya bagi Dr. Wang dan timnya adalah mengobati pasien dengan kurkumin untuk waktu yang lebih lama dan melihat efek penghambatannya dapat meningkat. Mereka berencana untuk mengobati pasien kanker yang dijadwalkan beberapa minggu berikutnya akan mendapat operasi. Mereka akan melakukan biopsi sebelum pemberian kurkumin dan pada saat operasi kemudian menganalisis jaringan untuk mencari perbedaan efeknya.

"Ada potensi untuk pengembangan kurkumin sebagai pengobatan pendukung untuk pasien kanker. Kurkumin tidak beracun, ditoleransi dengan baik, murah dan mudah diperoleh di toko makanan kesehatan. Meskipun penelitian ini cukup menjanjikan, penting untuk memperluas penemuan sehingga lebih banyak pasien yang mengkonfirmasi temuan kami," jelas Dr Wang.

Mencari cara lain untuk mengobati kanker kepala dan leher sangat penting karena pasien sering membutuhkan operasi dan kehilangan sebagian lidah atau mulut mereka. Efek samping yang muncul juga banyak, termasuk kesulitan menelan, mulut kering dan berpotensi mengalami kanker mulut yang lain kemudian hari.

Putihkan Gigi Secara Alami dengan Lidah Buaya

Banyak orang mencoba memutihkan gigi dengan cara bleaching atau menggunakan pasta gigi yang mengandung pemutih. Sayangnya, tidak semua orang suka melakukan cara tersebut. Lidah buaya bisa menjadi pilihan alami untuk memutihkan gigi.

Menurut University of Maryland Medical Center, lidah buaya telah digunakan sebagai tanaman obat selama ribuan tahun dan tetap menjadi salah satu herbal yang paling umum digunakan di Amerika Serikat saat ini. Kebanyakan aplikasi gel lidah buaya berhubungan dengan luka bakar dan masalah kulit seperti herpes.

Cairan pahit berwarna kuning yang berasal dari kulit daun lidah buaya juga telah digunakan sebagai obat pencahar yang kuat meskipun tidak aman. Selain itu, meski belum ada bukti klinis, lidah buaya juga banyak digunakan sebagai pemutih gigi, tapi tidak disarankan bagi wanita hamil karena dapat menyebabkan kontraksi uterus yang dapat memicu keguguran, seperti dilansir Livestrong, Kamis (10/11/2011).

Proses pemutihan gigi biasanya melibatkan lapisan enamel pada pemutihan luar gigi. Menurut American Dental Association, sebagian besar produk yang digunakan untuk memutihkan gigi menggunakan bahan kimia pemutihan seperti peroksida karbamid.

Sementara itu, gel lidah buaya mungkin tampak sebagai pilihan alami yang menarik untuk membatasi paparan terhadap bahan kimia abrasif. Gel lidah buaya biasanya tidak berbahaya bila dioleskan pada gigi atau mulut, tapi sengaja menelan gel lidah buaya dapat menyebabkan kram usus parah atau diare.

Meskipun tidak ada bukti terkait penggunaan gel lidah buaya yang efektif sebagai gigi pemutih, tetapi bahan anti-inflamasi (peradangan) pada lidah buaya telah terbukti bermanfaat bagi orang yang mengalami kondisi kesehatan yang dapat berefek negatif pada penampilan gigi, seperti penyakit gusi dan rongga mulut yang terinfeksi.

Dilansir MayoClinic, lidah buaya efektif mengobati lichen planus (kondisi peradangan di mulut) dan gingivitis (radang pada gusi akibat dari infeksi bakteri). Untuk hasil terbaik, konsultasinya dengan dokter Anda sebelum menerapkan gel lidah buaya untuk gigi atau menggunakan pasta gigi yang diperkaya dengan lidah buaya.

Baru Ada 6 Jenis Jamu yang Sudah Lulus Uji Klinis

Keragaman hayati di Indonesia menempati urutan kedua setelah Brazil. Sayangnya, dari ribuan tanaman obat, baru ada 6 jenis jamu yang sudah lulus uji klinis atau disebut fitofarmaka.

Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. Ada 30.000 jenis tanaman dan 9.600 diantaranya telah terbukti memiliki khasiat. Tapi hingga saat ini, baru ada 6 jenis fitofarmaka (lulus uji klinis pada manusia), 31 obat herbal terstandar (baru lulus uji praklinis pada hewan coba) dan 1.400 jamu (berdasarkan pengalaman.

"Saat ini kita sudah memiliki 6 fitofarmaka, 31 OHT (obat herbal terstandar) dan 1.400 jenis jamu," jelas Wakil Menteri Kesehatan, Prof. dr. Ali Gufron Mukti MSc PhD, saat memberi sambutan dalam seminar jamu 'Indonesia Cinta Sehat, Saatnya Jamu Berkontribusi' di Gedung Kemenkes, Jakarta, Rabu (16/11/2011).

Menurut Prof Ali, ada beberapa kendala yang menyebabkan banyaknya obat-obat tradisional yang belum teruji, antara lain dana dan para ahli yang terlibat.

"Begitu banyak jenisnya, potensi besar tapi untuk melakukan penelitian masih terbatas. Ini karena dana juga terbatas, ahli-ahli, ketertarikan dan penggerakkan juga belum sesemangat sekarang. Untuk ini kita sekarang membentuk direktorat baru (di Kementerian Kesehatan) untuk khusus menangani ini. Saya optimis jamu akan jauh lebih maju dari sebelumnya," tegas Prof Ali.

Selama ini, pada pendekatan kedokteran di Indonesia yang diterima sebagai pengobatan formal adalah pengobatan barat, bukan pengobatan tradisional seperti jamu.

Oleh karena itu, dibutuhkan bukti ilmiah (evidence base) sehingga jamu dapat benar-benar terbukti memberikan keamanan, keefektifan, meningkatkan daya tahan tubuh dan bahkan memberikan daya efektivitas kuratif (menyembuhkan).

Menurut Prof Ali, kesempatan untuk jamu sangat luar biasa hingga benar-benar dapat memberikan kemanfaatan. Oleh karena itu diharapkan dengan adanya saintifikasi, jamu dapat dikaji secara ilmiah dan dimanfaatkan sebagai pengobatan yang benar-benar teruji.

"Kita (pemerintah) ingin melakukan sebuah evidence base, artinya secara ilmiah dikaji, diteliti seberapa jauh obat-obat tradisional termasuk jamu memberikan suatu kemanfaatan. Kita melibatkan berbagai pihak untuk bisa melakukan saintifikasi jamu," tutup Prof Ali.

Obat-obatan dari bahan alam itu dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

1. Jamu
Adalah obat asli Indonesia yang ramuan, cara pembuatan, cara penggunaan, pembuktian khasiat dan keamanannya berdasarkan pengetahuan tradisional, pengalaman atau data empiris.

2. Obat Herbal Terstandar (OHT)
Adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinis (pengujian terhadap hewan percobaan) tapi belum uji klinis atau pada manusia meski bahan bakunya telah distandarisasi.

3. Fitofarmaka
Adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinis dan klinis, dimana bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. Produk fitofarmaka dapat disetarakan dengan obat moderen dan sudah dapat diresepkan oleh dokter.

Seorang dokter hanya boleh meresepkan obat herbal fitofarmaka, yang telah teruji klinis dan telah diujikan terhadap manusia. Namun tidak sembarang dokter boleh memberikan resep obat herbal. Dokter tersebut harus tersertifikasi organisasi profesi.

60 Persen Orang RI Percaya Jamu, Puskesmas Jamu Diperbanyak

Hampir sebanyak 60 persen (59,12%) penduduk Indonesia mengonsumsi jamu dan hampir seluruh pemakainya (95,6%) merasakan jamu berkhasiat meningkatkan kesehatan. Karena tingginya minat terhadap jamu, Kemenkes menargetkan 50 persen Puskesmas yang ada di Indonesia sudah bisa memberikan pelayanan tradisional di 2014.

Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. Ada 30.000 jenis tanaman dan 9.600 diantaranya telah terbukti memiliki khasiat. Untuk itu, tidak mengherankan bila Indonesia ingin menjadi tuan rumah dengan memasukkan jamu sebagai salah satu jenis pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas.

Menurut data WHO tahun 2005, ada sekitar 80 persen penduduk dunia pernah menggunakan obat herbal. Dan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2010), ada 59,12 persen penduduk Indonesia yang mengonsumsi jamu dan 95,6 persen merasakan jamu berkhasiat meningkatkan kesehatan.

"Tahun 2014 kita menargetkan 50 persen kabupaten dan kota yang masing-masing terdapat 2 atau 3 Puskesmas, telah bisa memberikan pelayanan tradisional, sehingga dapat menjangkau setengah dari wilayah Indonesia," jelas dr Abidinsyah Siregar DHSM, MKes, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif dan Komplementer Kementerian Kesehatan, dalam sambutannya membuka seminar jamu 'Indonesia Cinta Sehat, Saatnya Jamu Berkontribusi' di Gedung Kemenkes, Jakarta, Rabu (16/11/2011).

Nantinya, lanjut dr Abidin, 50 persen kabupaten/kota di Indonesia diharapkan sebagian besar sudah bisa memberikan pelayanan kesehatan dasar yang terintegrasi antara pengobatan tradisional dengan konvensional (obat kimia).

"Tahun ini baru 20 persen. Maksudnya integrasi, yang sudah ada dilengkapi dengan yang tradisional. Jadi tidak hanya obat-obatan (kimia) saja atau suntik saja tetapi juga obat tradisional. Sakit itu kan ada 4 wilayah, sakit itu kuratif. Tapi sebelum sakit orang kan sudah merasa tidak nyaman, tidak enak, ingin sehat. Nah itu diberikan dengan pelayanan jamu," jelas dr Abidin.

Saat ini sudah ada 70 Puskesmas di wilayah Jawa Tengah yang sudah bisa memberikan pelayanan jamu. Dan tahun ini, 100 dari 497 atau 20 persen kabupaten/kota se-Indonesia ditargetkan sudah punya Puskesmas yang terintegrasi dengan layanan jamu.

Selain Puskesmas, lanjut dr Abidin, 100 rumah sakit pemerintah juga diharapkan mampu memberikan pelayanan tradisional sebagai pengobatan alternatif dan komplementer.

"Ini sesuai dengan UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 48, yang menjelaskan ada 17 jenis pelayanan kesehatan, dimana salah satunya adalah pelayanan tradisional. Jadi pengobatan tradisional eksis, formal dan ada di UU," jelas dr Abid

Herbal: Sawi

OBAT HERBAL, Deskripsi:
Sawi (Brassica) dikenal sebagai sayuran rendah kalori. Ada beragam sawi (hitam, hijau, putih), semua jenis sawi mengandung nilai gizi yang baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, mengkonsumsi sawi sama halnya sedang mencegah dan mengobati penyakit.

Kandungan:
- vitamin (B6, C, dan E)
- kalsium
- karoten
- zat besi
- serat
- glukosinolat

Khasiat:
- mencegah dan melindungi serangan kanker dan penyakit hati.
- menguatkan tulang.

pengobatan kuno di Eropa Timur menggunakan biji sawi hitam untuk mengobati infeksi saluran pernafasan.

Sumber: disarikan dari berbagai sumber

Herbal: Dadap Merah

Deskripsi:
Dadap merah (Erythrina crista galli) berfungsi sebagai tanaman peneduh. Tumbuhan ini biasanya dapat menarik perhatian dan burung-burung untuk hinggap. Sebabnya karena bunga Dadap Merah yang berwarna merah nampak indah. Bagi kesehatan, Dadap Merah juga berfungsi sebagai obat. Penemuan terbaru membuktikan bahwa daun Dadap Merah dapat menjadi obat antimalaria.

Kandungan:
- senyawa alkaloid kuinin.

Khasiat:
Dadap merah dapat dijadikan obat antimalaria.


Sumber: disarikan dari berbagai sumber

Hiu Pros  Sari Kutuk  Cakar Ayam  Pegagan  Hiu Asi  Kapsul Daun Ungu  Hiu Arum  Herba Tempuyung  Purwoceng  Spirulina  Keladitikus  Pasak Bumi  Gamat  Daun Salam  Daun Sirsak  Kulit Manggis  Rumput Mutiara  Cabe Jawa  Kumis Kucing  Mengkudu  Sambung Nyowo  Hiu Si Langsing  Herba Histaminic  Hiu Hepafit  Herbislim  Prosamura  Neuro Herba  Sarmut Semut ( Sarang Semut )  Diacarehiu  Koleshiu  Hiuneotensi  Hiucardiocare  Hiubantugin  Kapsul Spirulina  Syifa Kids Penawar Angin  Syifa Kids Propolis  Madu Honeymart Nektar Bunga Rambutan 900 gram  Madu Honeymart Nektar Bunga Rambutan 300 Gr  Madu Honeymart Nektar Bunga Kelengkeng 900 gram   Madu Honeymart Nektar Bunga Kelengkeng 450 gram  Madu Honeymart Nektar Bunga Klengkeng 300 gram  Madu Honeymart Nektar Bunga Mangga ( Netto 900 gram )  Madu Honeymart Nektar Multiflora ( Netto 900 gram )  Madu Honeymart Nektar Multiflora 450 gram  Madu Honeymart Nektar Multiflora 300 gram  Madu Honeymart Nektar Bunga Randu ( Netto 900 gram )  Honeymart Nektar Bunga Randu 450 gram  Honeymart Nektar Bunga Randu 300 gram  Madu Honeymart ( Nektar Bunga Kopi 450 gram)  Madu Honeymart ( Nektar Bunga Mangga 450 gram)  Madu Honeymart ( Nektar Bunga Kopi Netto 900 gram )  Madu Honeymart ( Nektar Bunga Rambutan 450 gram)  Kapsul Minyak Zaitun 100 Kapsul  Diabetes  Kutuk  Kolesterol  Gamat  Daun Sirsak Ekstrak  Cardiofit  Madu Murni 800gr  Madu Murni 400gr  Syifa Kids Diare  Syifa Kids Sembelit  Syifa Kids Alergi & Gatal  Syifa kids Mata Sehat  Madu Herbal Anak Syifa Kids  FITOGURA  SAMURATIK  
Copyright © 2017 . Sujarwo Herbals All rights reserved | Powered by Sketsa Website